Besok, 9 Juli 2014 merupakan
pesta demokrasi bagi kita semua, seluruh warga negara Indonesia. Pesta? Ya,
karena pada hari itulah kita akan mencurahkkan pandangan politik lewat
pemilihan presiden demi masa depan kita semua lima tahun ke depan. Oleh karena
itu, marilah kita memilih dengan bijak dan cerdas.
Sebagai generasi muda yang aktif
dan progresif, gue cenderung gak banyak suara, tapi banyak mengamati. Whatever orang mau berkoar-koar kayak
gimana, gue punya pandangan dan pilihan gue sendiri. Di sini gue gak
mempermasalahkan siapa yang terbaik di antara kedua kandidat calon presiden dan
wakil presiden kita. Gue juga gak akan menyibukkan diri gue dengan saling
berkomentar tentang kelemahan dan keburukan masing-masing kandidat. Nothing’s perfect. Gue juga gak akan
mempermasalahkan siapa pilihan kalian. Gue percaya, orang-orang yang nyempetin
waktu untuk baca artikel-artikel di internet untuk mencari tahu info tentang
Pemilu ini, termasuk orang-orang yang peduli dan berintelektualitas yang cukup
tinggi. Termasuk juga orang-orang yang udah sempetin waktunya buat berkunjung
ke blog gue (congrats and matur nuwun)
Orang-orang yang memiliki kepedulian dan intelektualitas kayak kalian ini gue juga yakin udah bener-bener berpikir untuk
memilih berdasarkan analisis dan kehendak hati kalian. Jadi, gak ada unsur persuasif atau konfrontatif
sama sekali dari gue kepada kalian para pembaca yang budiman.
Ngomong-ngomong soal capres dan
cawapres yang nanti bakal gue bolongin idungnya (eh, itu sih emang udah bolong
yah) , gue terus terang salut dan respect
banget sama salah satu kandidat capres dan cawapres. Gausah gue sebutin
namanya juga nanti kalian tahu sendiri. Makanya, jadilah pembaca yang baik dan
benar yah! Hehe. Lanjuts! Pernah gue
denger sebelumnya bahwa “pilihan bisa berubah seiring dengan waktu dan
pengetahuan serta wawasan yang berkembang”, ternyata bener banget. Dulu, gue
sampe sempet berkicau sama temen bahkan dosen gue sendiri. Gue berkata, “Pak, kayaknya Saya gak bakal pilih ‘dia’ deh
buat jadi presiden nanti. Soalnya Saya gak suka aja. Masa dari daerah ibukota
yang sekarang dia pimpin aja programnya belum berjalan dan menyeluruh, eh
sekarang malah nyapres. Yang kedua,
Saya takut bahwa ‘dia’ nantinya bakal jadi alat kekuasaan ‘si banteng’ doang.
Kan bisa gawat, Pak!”. Dengan wajah berapi-api dan kalimat membara, gue koarkan
apa yang ada di benak gue saat itu. Di balik kacamatanya yang mengkilat, dosen
gue dengan tenang mengatakan, “Kiem, pandangan kamu bagus. Saya senang punya
mahasiswa yang kritis seperti kamu. Tapi alangkah baiknya redam dulu dan amati
saja perkembangan situasi politiknya layaknya kamu sedang memancing. Nikmati
perkembangan dan proses politiknya. Informasi senantiasa berubah dengan media
massa yang sudah seperti sekarang ini. Maka saran Saya, tunggu, amati, dan
pilihlah dengan bijak sesuai hati nurani kamu. Belum tentu juga pilihan Kamu yang
sekarang akan sama dengan pikiran kamu ke depannya nanti, loh.” Dia mengakhiri
kalimat seraya menghisap halus cairan jahe susu panas yang terasa begitu
menenangkan di bawah terik matahari di kota Bogor. Pembicaraan kami pun
berlanjut sampai tiba-tiba pegawai kantor percetakan berkata, “Maaf pak,
proposalnya sudah selesai di cetak ulang.” Kami pun meninggalkan ibu-ibu
penjual bandrek yang seakan tatapannya berbicara kepada kami, “Jangan lupa
bayar bandrek sama gorengannya!”.
Dari situ gue dapat pencerahan
yang mencerahkan gue sampai sekarang. Sekarang, gue sadar bahwa ucapan dari
dosen gue itu benar. Alih-alih menuruti perkataan yang telah gue lontarkan,
malah sekarang gue memilih ‘dia’ yang menjadi subjek negatif gue, tempo hari.
Mungkin itu termasuk labilitas emosi dan pemikiran gue sebagai pemuda. Namun, gue
memutuskan ini bukan tanpa pertimbangan. Apa sajakah pertimbangan-pertimbangan itu? Mari kita
lanjutkan pada paragraf selanjutnya.
Yang pertama, Gue seneng banget
sama kesederhanaan beliau. Walaupun kata orang itu pencitraan semata, tapi
logikanya emang beliau itu kan pejabat. Selama ini tidak pernah ada pejabat
yang berperilaku seperti beliau. Ini unik, makanya jadi sorotan media. Kalaupun
itu tidak alami dari diri beliau, ya berarti beliau kreatif. Memperkenalkan
diri lewat media dengan hal-hal yang positif. Pinter kan? Yadooong, CAPRES!
Yang kedua, dia love banget sama musik! Mungkin banyak
yah pejabat yang suka sama musik. Tapi beliau ini punya selera yang bagus.
Bagus dalam artian sesuai dengan selera anak muda jaman sekarang. Gimana
enggak? Konser Metallica yang bekapasitas 500.000 orang dengan daya listrik
30.000 watt aja dihajar sama doi! Cadas gak tuh? Pas kampanyenya, doi juga nampilin BLP (Barry Likumahuwa
Project) yang emang lagi digandrungi banget sama anak muda jaman sekarang. Pas
diliat, acaranya juga kreatif abis! Pencampuran kampanye, sajian musik selera
muda, dan kebudayaan. Kurang mangstab apanya
coba! Yang paling pecah lagi nih sampe musisi sekelas Jason Mraz dan Arkarna
juga ngucapin dukungannya kepada calon presiden ini lewat account twitternya untuk Indonesia yang lebih baik. Gak percaya?
Ini nih gue kasih screenshots dari
laman detik.com dan rollingstoneIndonesia :
| Gambar 1 - Ini nih screenshots dari Arkana tentang Jokowi. |
| Gambar 2 - Ini penegasan dari account resmi Arkana tentang postingnya tempo hari. |
![]() |
| Gambar 3 - Ini nih twit-nya mega bintang Jason Mraz untuk Jokowi. SEDAP! |
Nah yang ketiga, ‘doi’
menyuarakan untuk memberdayakan ekonomi kreatif yang melibatkan peran aktif
generasi muda. Sebelumnya mungkin perlu disinggung apa sih ekonomi kreatif itu?
Dikutip dari wikipedia, ini nih pengertiannya : Ekonomi kreatif adalah sebuah konsep di era ekonomi
baru yang mengintensifkan informasi dan kreativitas
dengan mengandalkan ide dan pengetahuan dari sumber daya manusia sebagai faktor
produksi yang utama. Nah, dari pengertian ini, John Howkins dalam
bukunya The Creative Economy: How People Make Money from Ideas
pertama kali memperkenalkan istilah ekonomi kreatif. Howkins menyadari lahirnya
gelombang ekonomi baru berbasis kreativitas setelah melihat pada tahun 1997, Amerika
Serikat menghasilkan produk-produk Hak Kekayaan
Intelektual (HKI) senilai 414 miliar dolar yang menjadikan HKI
sebagai barang ekspor nomor satu di Amerika Serikat. Pantaslah kiranya John
Hopkins menggaris bawahi ekonomi kreatif dengan pernyataan the creation of
value as a result of idea. Nah, guys sekarang
udah tau kan? Gue bukan anak fakultas ilmu ekonomi yang bisa mendefinisikan
lebih detail termasuk dampak-dampak dari sistem ekonomi ini tuh kayak gimana sih. Cuma gue tertarik aja
sama gagasan ini. Kenapa? Karena disinilah Sumber Daya Manusia akan
dioptimalkan! Ide dan gagasan akan dituai! Ngomong-ngomong soal ide dan
hubungannya dengan sumber daya, gue kutip lagi nih dari sebuah buku karya John C. Maxwell yaitu “Berpikir Lain dari Biasanya (Thingking For a
Change).” Nah, di dalam buku itu, ada sebuah kata yang gue underline yaitu kata-kata dari seorang
penulis hebat yaitu Napoleon Hill
yang mengatakan, “Lebih banyak emas telah ditambang dari pemikiran manusia
ketimbang dari bumi.” Tuh guys, ini
tuh make sense banget! Bayangin kalo
semua orang diarahkan untuk menuangkan pikirannya berdasarkan bidangnya
masing-masing untuk membangun negeri tercinta. Bakal mantap banget! Apalagi
program ini akan mengajak peran aktif pemuda yang selayaknya menjadi generasi
penerus bangsa, menjadi pemikir-pemikir yang akan menuangkan ide dan gagasan
pada wujud nyata. Nah, wujud nyata yang waktu itu gue denger dari pernyataan
beliau di televisi, beliau akan mengerahkan ekonomi kreatif ini termasuk dari
bidang pemberdayaan industri musik dan film sebagai media untuk menampung
ide-ide kreatif dari para pemuda. Wah! Nyanyi ah : “Bangkit bersama, generasi sinergi!”
Selain dari ketiga hal di atas,
gue juga merasakan ada kesesuaian kepribadian gue sama beliau sih. You all need to know that, gue adalah
pribadi yang cenderung “eksekutor”. Loh? Kayak
algojo gitu dong? Bukan! Maksudnya gue tuh orang lapangan yang langsung
membuat keputusan dan bekerja berdasarkan kenyataan dan realitas serta keadaan
di lapangan. Doi juga gitu ternyata.
Dia lebih memilih “memblusukkan” dirinya ke tengah-tengah masyarakat supaya
benar-benar tau berdasarkan kejadian di lapangan sehingga bisa langsung
memutuskan segala sesuatunya dengan taktis dan cepat serta tanggap. Mantap kan?
Yoi lah! Jadi, sebagai kalimat
terakhir gue dalam artikel ini, gue ingin mneyampaikan “Terlalu banyak orang yang pintar berbicara di Indonesia ini sementara
ibu pertiwi membutuhkan ‘lakon’ yang bekerja dan berbuat dalam bentuk nyata”.
#salam2jari !!
Dibikin di meja kerja gue, Rabu,
8 Juli 2014 @ 6.16 A.M
Originally created, edited, and
written by. M.H Ghaz


17.44
Unknown


Posted in: 
0 komentar:
Posting Komentar