Find Your Passion And Let's Action!

It's my personal blog about my passion in Cinematography, Music, & Journalistic.

Senin, 07 Juli 2014

Let's Speak Politic, Politely!





Besok, 9 Juli 2014 merupakan pesta demokrasi bagi kita semua, seluruh warga negara Indonesia. Pesta? Ya, karena pada hari itulah kita akan mencurahkkan pandangan politik lewat pemilihan presiden demi masa depan kita semua lima tahun ke depan. Oleh karena itu, marilah kita memilih dengan bijak dan cerdas.


Sebagai generasi muda yang aktif dan progresif, gue cenderung gak banyak suara, tapi banyak mengamati. Whatever orang mau berkoar-koar kayak gimana, gue punya pandangan dan pilihan gue sendiri. Di sini gue gak mempermasalahkan siapa yang terbaik di antara kedua kandidat calon presiden dan wakil presiden kita. Gue juga gak akan menyibukkan diri gue dengan saling berkomentar tentang kelemahan dan keburukan masing-masing kandidat. Nothing’s perfect. Gue juga gak akan mempermasalahkan siapa pilihan kalian. Gue percaya, orang-orang yang nyempetin waktu untuk baca artikel-artikel di internet untuk mencari tahu info tentang Pemilu ini, termasuk orang-orang yang peduli dan berintelektualitas yang cukup tinggi. Termasuk juga orang-orang yang udah sempetin waktunya buat berkunjung ke blog gue (congrats and matur nuwun) Orang-orang yang memiliki kepedulian dan intelektualitas kayak kalian ini gue juga yakin udah bener-bener berpikir untuk memilih berdasarkan analisis dan kehendak hati kalian. Jadi,  gak ada unsur persuasif atau konfrontatif sama sekali dari gue kepada kalian para pembaca yang budiman.

Ngomong-ngomong soal capres dan cawapres yang nanti bakal gue bolongin idungnya (eh, itu sih emang udah bolong yah) , gue terus terang salut dan respect banget sama salah satu kandidat capres dan cawapres. Gausah gue sebutin namanya juga nanti kalian tahu sendiri. Makanya, jadilah pembaca yang baik dan benar yah! Hehe. Lanjuts! Pernah gue denger sebelumnya bahwa “pilihan bisa berubah seiring dengan waktu dan pengetahuan serta wawasan yang berkembang”, ternyata bener banget. Dulu, gue sampe sempet berkicau sama temen bahkan dosen gue sendiri. Gue berkata, “Pak, kayaknya Saya gak bakal pilih ‘dia’ deh buat jadi presiden nanti. Soalnya Saya gak suka aja. Masa dari daerah ibukota yang sekarang dia pimpin aja programnya belum berjalan dan menyeluruh, eh sekarang malah nyapres. Yang kedua, Saya takut bahwa ‘dia’ nantinya bakal jadi alat kekuasaan ‘si banteng’ doang. Kan bisa gawat, Pak!”. Dengan wajah berapi-api dan kalimat membara, gue koarkan apa yang ada di benak gue saat itu. Di balik kacamatanya yang mengkilat, dosen gue dengan tenang mengatakan, “Kiem, pandangan kamu bagus. Saya senang punya mahasiswa yang kritis seperti kamu. Tapi alangkah baiknya redam dulu dan amati saja perkembangan situasi politiknya layaknya kamu sedang memancing. Nikmati perkembangan dan proses politiknya. Informasi senantiasa berubah dengan media massa yang sudah seperti sekarang ini. Maka saran Saya, tunggu, amati, dan pilihlah dengan bijak sesuai hati nurani kamu. Belum tentu juga pilihan Kamu yang sekarang akan sama dengan pikiran kamu ke depannya nanti, loh.” Dia mengakhiri kalimat seraya menghisap halus cairan jahe susu panas yang terasa begitu menenangkan di bawah terik matahari di kota Bogor. Pembicaraan kami pun berlanjut sampai tiba-tiba pegawai kantor percetakan berkata, “Maaf pak, proposalnya sudah selesai di cetak ulang.” Kami pun meninggalkan ibu-ibu penjual bandrek yang seakan tatapannya berbicara kepada kami, “Jangan lupa bayar bandrek sama gorengannya!”.

Dari situ gue dapat pencerahan yang mencerahkan gue sampai sekarang. Sekarang, gue sadar bahwa ucapan dari dosen gue itu benar. Alih-alih menuruti perkataan yang telah gue lontarkan, malah sekarang gue memilih ‘dia’ yang menjadi subjek negatif gue, tempo hari. Mungkin itu termasuk labilitas emosi dan pemikiran gue sebagai pemuda. Namun, gue memutuskan ini bukan tanpa pertimbangan. Apa sajakah  pertimbangan-pertimbangan itu? Mari kita lanjutkan pada paragraf selanjutnya.

Yang pertama, Gue seneng banget sama kesederhanaan beliau. Walaupun kata orang itu pencitraan semata, tapi logikanya emang beliau itu kan pejabat. Selama ini tidak pernah ada pejabat yang berperilaku seperti beliau. Ini unik, makanya jadi sorotan media. Kalaupun itu tidak alami dari diri beliau, ya berarti beliau kreatif. Memperkenalkan diri lewat media dengan hal-hal yang positif. Pinter kan? Yadooong, CAPRES!

Yang kedua, dia love banget sama musik! Mungkin banyak yah pejabat yang suka sama musik. Tapi beliau ini punya selera yang bagus. Bagus dalam artian sesuai dengan selera anak muda jaman sekarang. Gimana enggak? Konser Metallica yang bekapasitas 500.000 orang dengan daya listrik 30.000 watt aja dihajar sama doi! Cadas gak tuh? Pas kampanyenya, doi juga nampilin BLP (Barry Likumahuwa Project) yang emang lagi digandrungi banget sama anak muda jaman sekarang. Pas diliat, acaranya juga kreatif abis! Pencampuran kampanye, sajian musik selera muda, dan kebudayaan. Kurang mangstab apanya coba! Yang paling pecah lagi nih sampe musisi sekelas Jason Mraz dan Arkarna juga ngucapin dukungannya kepada calon presiden ini lewat account twitternya untuk Indonesia yang lebih baik. Gak percaya? Ini nih gue kasih screenshots dari laman detik.com dan rollingstoneIndonesia :

Gambar 1 - Ini nih screenshots dari Arkana tentang Jokowi.


Gambar 2 - Ini penegasan dari account resmi Arkana tentang postingnya tempo hari.
Gambar 3 - Ini nih twit-nya mega bintang Jason Mraz untuk Jokowi. SEDAP!

Nah yang ketiga, ‘doi’ menyuarakan untuk memberdayakan ekonomi kreatif yang melibatkan peran aktif generasi muda. Sebelumnya mungkin perlu disinggung apa sih ekonomi kreatif itu? Dikutip dari wikipedia, ini nih pengertiannya : Ekonomi kreatif adalah sebuah konsep di era ekonomi baru yang mengintensifkan informasi dan kreativitas dengan mengandalkan ide dan pengetahuan dari sumber daya manusia sebagai faktor produksi yang utama. Nah, dari pengertian ini, John Howkins dalam bukunya The Creative Economy: How People Make Money from Ideas pertama kali memperkenalkan istilah ekonomi kreatif. Howkins menyadari lahirnya gelombang ekonomi baru berbasis kreativitas setelah melihat pada tahun 1997, Amerika Serikat menghasilkan produk-produk Hak Kekayaan Intelektual (HKI) senilai 414 miliar dolar yang menjadikan HKI sebagai barang ekspor nomor satu di Amerika Serikat. Pantaslah kiranya John Hopkins menggaris bawahi ekonomi kreatif dengan pernyataan the creation of value as a result of idea. Nah, guys sekarang udah tau kan? Gue bukan anak fakultas ilmu ekonomi yang bisa mendefinisikan lebih detail termasuk dampak-dampak dari sistem ekonomi ini tuh kayak gimana sih. Cuma gue tertarik aja sama gagasan ini. Kenapa? Karena disinilah Sumber Daya Manusia akan dioptimalkan! Ide dan gagasan akan dituai! Ngomong-ngomong soal ide dan hubungannya dengan sumber daya, gue kutip lagi nih dari sebuah buku karya John C. Maxwell yaitu Berpikir Lain dari Biasanya (Thingking For a Change).” Nah, di dalam buku itu, ada sebuah kata yang gue underline yaitu kata-kata dari seorang penulis hebat yaitu Napoleon Hill yang mengatakan, “Lebih banyak emas telah ditambang dari pemikiran manusia ketimbang dari bumi.” Tuh guys, ini tuh make sense banget! Bayangin kalo semua orang diarahkan untuk menuangkan pikirannya berdasarkan bidangnya masing-masing untuk membangun negeri tercinta. Bakal mantap banget! Apalagi program ini akan mengajak peran aktif pemuda yang selayaknya menjadi generasi penerus bangsa, menjadi pemikir-pemikir yang akan menuangkan ide dan gagasan pada wujud nyata. Nah, wujud nyata yang waktu itu gue denger dari pernyataan beliau di televisi, beliau akan mengerahkan ekonomi kreatif ini termasuk dari bidang pemberdayaan industri musik dan film sebagai media untuk menampung ide-ide kreatif dari para pemuda. Wah! Nyanyi ah : “Bangkit bersama, generasi sinergi!”

Selain dari ketiga hal di atas, gue juga merasakan ada kesesuaian kepribadian gue sama beliau sih. You all need to know that, gue adalah pribadi yang cenderung “eksekutor”. Loh? Kayak algojo gitu dong? Bukan! Maksudnya gue tuh orang lapangan yang langsung membuat keputusan dan bekerja berdasarkan kenyataan dan realitas serta keadaan di lapangan. Doi juga gitu ternyata. Dia lebih memilih “memblusukkan” dirinya ke tengah-tengah masyarakat supaya benar-benar tau berdasarkan kejadian di lapangan sehingga bisa langsung memutuskan segala sesuatunya dengan taktis dan cepat serta tanggap. Mantap kan? Yoi lah! Jadi, sebagai kalimat terakhir gue dalam artikel ini, gue ingin mneyampaikan “Terlalu banyak orang yang pintar berbicara di Indonesia ini sementara ibu pertiwi membutuhkan ‘lakon’ yang bekerja dan berbuat dalam bentuk nyata”.

#salam2jari !!


Dibikin di meja kerja gue, Rabu, 8 Juli 2014 @ 6.16 A.M

Originally created, edited, and written by. M.H Ghaz

0 komentar:

Posting Komentar

Let's Speak Politic, Politely!

| |





Besok, 9 Juli 2014 merupakan pesta demokrasi bagi kita semua, seluruh warga negara Indonesia. Pesta? Ya, karena pada hari itulah kita akan mencurahkkan pandangan politik lewat pemilihan presiden demi masa depan kita semua lima tahun ke depan. Oleh karena itu, marilah kita memilih dengan bijak dan cerdas.


Sebagai generasi muda yang aktif dan progresif, gue cenderung gak banyak suara, tapi banyak mengamati. Whatever orang mau berkoar-koar kayak gimana, gue punya pandangan dan pilihan gue sendiri. Di sini gue gak mempermasalahkan siapa yang terbaik di antara kedua kandidat calon presiden dan wakil presiden kita. Gue juga gak akan menyibukkan diri gue dengan saling berkomentar tentang kelemahan dan keburukan masing-masing kandidat. Nothing’s perfect. Gue juga gak akan mempermasalahkan siapa pilihan kalian. Gue percaya, orang-orang yang nyempetin waktu untuk baca artikel-artikel di internet untuk mencari tahu info tentang Pemilu ini, termasuk orang-orang yang peduli dan berintelektualitas yang cukup tinggi. Termasuk juga orang-orang yang udah sempetin waktunya buat berkunjung ke blog gue (congrats and matur nuwun) Orang-orang yang memiliki kepedulian dan intelektualitas kayak kalian ini gue juga yakin udah bener-bener berpikir untuk memilih berdasarkan analisis dan kehendak hati kalian. Jadi,  gak ada unsur persuasif atau konfrontatif sama sekali dari gue kepada kalian para pembaca yang budiman.

Ngomong-ngomong soal capres dan cawapres yang nanti bakal gue bolongin idungnya (eh, itu sih emang udah bolong yah) , gue terus terang salut dan respect banget sama salah satu kandidat capres dan cawapres. Gausah gue sebutin namanya juga nanti kalian tahu sendiri. Makanya, jadilah pembaca yang baik dan benar yah! Hehe. Lanjuts! Pernah gue denger sebelumnya bahwa “pilihan bisa berubah seiring dengan waktu dan pengetahuan serta wawasan yang berkembang”, ternyata bener banget. Dulu, gue sampe sempet berkicau sama temen bahkan dosen gue sendiri. Gue berkata, “Pak, kayaknya Saya gak bakal pilih ‘dia’ deh buat jadi presiden nanti. Soalnya Saya gak suka aja. Masa dari daerah ibukota yang sekarang dia pimpin aja programnya belum berjalan dan menyeluruh, eh sekarang malah nyapres. Yang kedua, Saya takut bahwa ‘dia’ nantinya bakal jadi alat kekuasaan ‘si banteng’ doang. Kan bisa gawat, Pak!”. Dengan wajah berapi-api dan kalimat membara, gue koarkan apa yang ada di benak gue saat itu. Di balik kacamatanya yang mengkilat, dosen gue dengan tenang mengatakan, “Kiem, pandangan kamu bagus. Saya senang punya mahasiswa yang kritis seperti kamu. Tapi alangkah baiknya redam dulu dan amati saja perkembangan situasi politiknya layaknya kamu sedang memancing. Nikmati perkembangan dan proses politiknya. Informasi senantiasa berubah dengan media massa yang sudah seperti sekarang ini. Maka saran Saya, tunggu, amati, dan pilihlah dengan bijak sesuai hati nurani kamu. Belum tentu juga pilihan Kamu yang sekarang akan sama dengan pikiran kamu ke depannya nanti, loh.” Dia mengakhiri kalimat seraya menghisap halus cairan jahe susu panas yang terasa begitu menenangkan di bawah terik matahari di kota Bogor. Pembicaraan kami pun berlanjut sampai tiba-tiba pegawai kantor percetakan berkata, “Maaf pak, proposalnya sudah selesai di cetak ulang.” Kami pun meninggalkan ibu-ibu penjual bandrek yang seakan tatapannya berbicara kepada kami, “Jangan lupa bayar bandrek sama gorengannya!”.

Dari situ gue dapat pencerahan yang mencerahkan gue sampai sekarang. Sekarang, gue sadar bahwa ucapan dari dosen gue itu benar. Alih-alih menuruti perkataan yang telah gue lontarkan, malah sekarang gue memilih ‘dia’ yang menjadi subjek negatif gue, tempo hari. Mungkin itu termasuk labilitas emosi dan pemikiran gue sebagai pemuda. Namun, gue memutuskan ini bukan tanpa pertimbangan. Apa sajakah  pertimbangan-pertimbangan itu? Mari kita lanjutkan pada paragraf selanjutnya.

Yang pertama, Gue seneng banget sama kesederhanaan beliau. Walaupun kata orang itu pencitraan semata, tapi logikanya emang beliau itu kan pejabat. Selama ini tidak pernah ada pejabat yang berperilaku seperti beliau. Ini unik, makanya jadi sorotan media. Kalaupun itu tidak alami dari diri beliau, ya berarti beliau kreatif. Memperkenalkan diri lewat media dengan hal-hal yang positif. Pinter kan? Yadooong, CAPRES!

Yang kedua, dia love banget sama musik! Mungkin banyak yah pejabat yang suka sama musik. Tapi beliau ini punya selera yang bagus. Bagus dalam artian sesuai dengan selera anak muda jaman sekarang. Gimana enggak? Konser Metallica yang bekapasitas 500.000 orang dengan daya listrik 30.000 watt aja dihajar sama doi! Cadas gak tuh? Pas kampanyenya, doi juga nampilin BLP (Barry Likumahuwa Project) yang emang lagi digandrungi banget sama anak muda jaman sekarang. Pas diliat, acaranya juga kreatif abis! Pencampuran kampanye, sajian musik selera muda, dan kebudayaan. Kurang mangstab apanya coba! Yang paling pecah lagi nih sampe musisi sekelas Jason Mraz dan Arkarna juga ngucapin dukungannya kepada calon presiden ini lewat account twitternya untuk Indonesia yang lebih baik. Gak percaya? Ini nih gue kasih screenshots dari laman detik.com dan rollingstoneIndonesia :

Gambar 1 - Ini nih screenshots dari Arkana tentang Jokowi.


Gambar 2 - Ini penegasan dari account resmi Arkana tentang postingnya tempo hari.
Gambar 3 - Ini nih twit-nya mega bintang Jason Mraz untuk Jokowi. SEDAP!

Nah yang ketiga, ‘doi’ menyuarakan untuk memberdayakan ekonomi kreatif yang melibatkan peran aktif generasi muda. Sebelumnya mungkin perlu disinggung apa sih ekonomi kreatif itu? Dikutip dari wikipedia, ini nih pengertiannya : Ekonomi kreatif adalah sebuah konsep di era ekonomi baru yang mengintensifkan informasi dan kreativitas dengan mengandalkan ide dan pengetahuan dari sumber daya manusia sebagai faktor produksi yang utama. Nah, dari pengertian ini, John Howkins dalam bukunya The Creative Economy: How People Make Money from Ideas pertama kali memperkenalkan istilah ekonomi kreatif. Howkins menyadari lahirnya gelombang ekonomi baru berbasis kreativitas setelah melihat pada tahun 1997, Amerika Serikat menghasilkan produk-produk Hak Kekayaan Intelektual (HKI) senilai 414 miliar dolar yang menjadikan HKI sebagai barang ekspor nomor satu di Amerika Serikat. Pantaslah kiranya John Hopkins menggaris bawahi ekonomi kreatif dengan pernyataan the creation of value as a result of idea. Nah, guys sekarang udah tau kan? Gue bukan anak fakultas ilmu ekonomi yang bisa mendefinisikan lebih detail termasuk dampak-dampak dari sistem ekonomi ini tuh kayak gimana sih. Cuma gue tertarik aja sama gagasan ini. Kenapa? Karena disinilah Sumber Daya Manusia akan dioptimalkan! Ide dan gagasan akan dituai! Ngomong-ngomong soal ide dan hubungannya dengan sumber daya, gue kutip lagi nih dari sebuah buku karya John C. Maxwell yaitu Berpikir Lain dari Biasanya (Thingking For a Change).” Nah, di dalam buku itu, ada sebuah kata yang gue underline yaitu kata-kata dari seorang penulis hebat yaitu Napoleon Hill yang mengatakan, “Lebih banyak emas telah ditambang dari pemikiran manusia ketimbang dari bumi.” Tuh guys, ini tuh make sense banget! Bayangin kalo semua orang diarahkan untuk menuangkan pikirannya berdasarkan bidangnya masing-masing untuk membangun negeri tercinta. Bakal mantap banget! Apalagi program ini akan mengajak peran aktif pemuda yang selayaknya menjadi generasi penerus bangsa, menjadi pemikir-pemikir yang akan menuangkan ide dan gagasan pada wujud nyata. Nah, wujud nyata yang waktu itu gue denger dari pernyataan beliau di televisi, beliau akan mengerahkan ekonomi kreatif ini termasuk dari bidang pemberdayaan industri musik dan film sebagai media untuk menampung ide-ide kreatif dari para pemuda. Wah! Nyanyi ah : “Bangkit bersama, generasi sinergi!”

Selain dari ketiga hal di atas, gue juga merasakan ada kesesuaian kepribadian gue sama beliau sih. You all need to know that, gue adalah pribadi yang cenderung “eksekutor”. Loh? Kayak algojo gitu dong? Bukan! Maksudnya gue tuh orang lapangan yang langsung membuat keputusan dan bekerja berdasarkan kenyataan dan realitas serta keadaan di lapangan. Doi juga gitu ternyata. Dia lebih memilih “memblusukkan” dirinya ke tengah-tengah masyarakat supaya benar-benar tau berdasarkan kejadian di lapangan sehingga bisa langsung memutuskan segala sesuatunya dengan taktis dan cepat serta tanggap. Mantap kan? Yoi lah! Jadi, sebagai kalimat terakhir gue dalam artikel ini, gue ingin mneyampaikan “Terlalu banyak orang yang pintar berbicara di Indonesia ini sementara ibu pertiwi membutuhkan ‘lakon’ yang bekerja dan berbuat dalam bentuk nyata”.

#salam2jari !!


Dibikin di meja kerja gue, Rabu, 8 Juli 2014 @ 6.16 A.M

Originally created, edited, and written by. M.H Ghaz

0 komentar:

Posting Komentar

.

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | GreenGeeks Review